TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - AP (14), pelajar putri SMPN 42 Bandung, tak mau sekolah. Lengan kirinya mengalami memar karena dicubit oleh puluhan teman sekelasnya, Kamis (24/4/2014).
Orang tua AP, Deny Ruswandi (38), tak terima atas perlakuan teman-teman sekelas anaknya tersebut langsung lapor ke Mapolsek Rancasari. Sebelum dimintai keterangan, AP sempat diberi saran untuk melakukan visum terlebih dahulu.
"Saya lihat, posisi sudah di luar sekolah, lihat anak saya mendapat perlakuan berupa penganiayaan dari teman-teman sekelasnya. Ada lah sekitar tiga puluh orang. Anak saya itu memang telat, langsung ikut pelajaran olah raga. Hukuman dicubit itu atas perintah gurunya. Anak saya enggak masuk sekolah hari ini (kemarin, Red). Masih sakit lengan kirinya," ujar Deny saat dihubungi lewat telepon, Jumat (25/4).
Deny menyebut anaknya itu dicubit lengan kirinya secara bergantian oleh teman-teman sekelasnya. Deny yang melihat hal itu, mengurungkan niatnya untuk pulang setelah mengantar AP. Setengah berlari, Deny masuk ke dalam sekolah menghentikan aksi cubit terhadap AP.
Dia melihat AP saat itu merintih menahan sakit akibat cubitan teman-teman sekelasnya. Deny pun langsung meminta pertanggungjawaban dari guru olah raga. Guru tersebut, kata Deny, yang memberikan perintah kepada teman-teman sekelas AP untuk mencubit dengan dalih terlambat masuk sekolah.
"Dicubitnya bukan satu kali. Tapi itu semua temannya bergantian mencubit anak saya, enam kali putaran lapangan. Tapi saat itu baru tiga putaran. Kebayang kalau sampai enam putaran dicubit oleh teman-teman sekelasnya. Katanya anak saya dihukum karena sering terlambat dan jarang mengerjakan tugas," kata Deny.
Setelah kejadian itu, kepala SMP 42 memanggil Deny dan anaknya. Sekolah meminta maaf atas peristiwa pencubitan AP oleh teman-teman sekelasnya dengan dalih sebagai hukuman terlambat masuk sekolah.
"Iya, sekolah minta maaf. Tapi oknum guru itu tidak ada. Saya bersama keluarga merasa keberatan dan ingin kasus ini tetap dilanjut. Sekarang kondisinya dia sedih dan enggak mau sekolah. Padahal dua minggu lagi mau ujian. Istri saya juga sedih dan menangis," kata Deny.
Kanitreskrim Polsekta Rancasari, AKP Untung Margono yang dihubungi lewat telepon mengatakan, hingga hingga kemarin pihaknya belum menerima laporan resmi dari pihak keluarga.
"Saat ini laporan resmi belum, kita sarankan untuk secara kekeluargaan dulu dengan pihak sekolah. Tapi sekiranya tetap akan bikin laporan, tentu kita akan proses. Kita coba hubungi dulu orang tuanya," ujar Untung.
Guru SMP 42, Solikun mengakui mendengar adanya informasi tersebut. Namun ia tidak melihat langsung dan belum bertemu, termasuk konfirmasi kepada guru olahraga SMP 42.
Menurut Solikun, pihak sekolah cepat tanggap atas informasi tersebut dan akan meminta konfirmasi kepada guru yang bersangkutan. Pihak sekolah juga sudah bertemu dengan orang tua.
"Sebenarnya sudah ada penyelesaian dengan orangtua, kita selesaikan secara baik-baik, jangan sampai kejadian ini mengganggu siswa dalam kegiatan belajar mengajar," katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, kemarin. (dic/tif)
0 comments:
Post a Comment