TRIBUNNEWS,COM, BANDUNG -- MASIH ingat Puvelia Audriana Putri, bocah berumur 5,5 tahun yang tangannya terancam diamputasi karena terkena serangan bakteri ganas Pseudomonas aeruginosa? Kabar terbaru yang datang dari ruang rawat inap di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung cukup mengejutkan.
Tanpa diamputasi, Puvelia harus kehilangan tangannya. Rabu (23/4/2014), jari-jari tangan kirinya mendadak terlepas dari pergelangan tangan saat sedang digendong di ruang rawat inap Kenanga 2 RSHS Bandung.
Anak pasangan Joko dan Siti Halimah, warga RT 17/RW09, Kampung/Desa Palinggahan, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, ini dirawat di RSHS sejak 24 Februari 2014. Puvelia mengalami luka meradang, bahkan nyaris seperti terbakar di kedua lengannya.
Sebelumnya, Puvelia sempat mendapat perawatan di klinik Eka Medika, di Jalan Raya Warung Kandang, Purwakarta. karena sempat didiagnosis sakit tifus. Puvelia sempat diinfus di kedua tangannya dan sempat dibawa kembali ke rumah. Namun bukannya membaik, kedua tangan Puvelia justru seperti luka bakar berwarna hitam.
Setelah menjalani perawatan beberapa hari, Puvelia didiagnosis terserang bakteri ganas Pseudomonas aeruginosa.
Terlepasnya jari-jari Puvelia ditegaskan Direktur Utama RSUP Hasan Sadikin, dr Bayu Wahyudi. Menurut Bayu, sebenarnya jaringan di tangan kiri, termasuk jari-jari Puvelia, sudah tidak berfungsi.
"Iya benar, tapi saya tidak hafal jari mana saja. Tapi itu (terlepas) tinggal nunggu waktu, karena sudah tidak berfungsi lagi jaringannya," kata Bayu saat ditemui seusai acara Sidang Terbuka Komisi Guru Besar Senat Unpad, Penerimaan Jabatan Guru Besar Ramdan Panigoro di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jumat (25/4).
Menurut Bayu, dengan kondisi tersebut memang sudah seharusnya tangan Puvelia diamputasi. Namun belum seluruh keluarga menyetujui tindakan amputasi. "Ibunya sudah setuju, neneknya setuju, keluarganya hampir semua setuju, ayahnya saja yang masih belum bisa (menerima Puvelia diamputasi)," katanya.
Tindakan amputasi menjadi pilihan bagi Puvelia agar bakteri tidak menjalar ke organ tubuh lain. Selain itu, jaringan yang mati bisa menumbuhkan bakteri lain yang juga berbahaya bagi tubuh Puvelia.
Saat dirawat di RSHS, Puvelia sempat dijenguk Wakil Menteri Kesehatan RI, Ali Gufron. Ketika itu, Ali menyebutkan, kuman atau bakteri yang menyerang Puvelia bisa mengakibatkan infeksi secara sistemik. Bahkan kuman ini bisa berujung pada kemungkinan terburuk, yakni kematian.
"Tim dokter masih terus melakukan observasi. Kita berharap ada solusi yang lebih baik selain amputasi," katanya.
Saat jumpa pers, beberapa waktu lalu, Kepala Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Anak RSHS yang juga anggota tim dokter yang menangani Puvelia, Dr dr Djatnika Setiabudi SpAK, mengatakan, Puvelia saat dirujuk ke RSHS pada 25 Februari lalu mengalami infeksi kulit berat.
Kondisi klinisnya juga kurang baik. Bocah perempuan ini juga mengalami sesak, demam hingga 40 persen, sangat kesakitan, dan leukositnya tinggi. Dari hasil pemeriksaan tim dokter, Puvelia terinfeksi bakteri Pseudomonas aeruginosa.
Djatnika juga mengatakan, tim dokter yang terdiri atas dokter anak, dokter kulit, dokter bedah vaskuler, dokter bedah ortopedi, serta dokter lainnya masih terus melalukan observasi. Waktu itu mereka belum memutuskan untuk melakukan amputasi. (Siti Fatimah)
0 comments:
Post a Comment