Saturday, April 26, 2014

Mayat dalam Karung Itu Karyawan RS Immanuel


Mayat dalam Karung Itu Karyawan RS Immanuel
net







TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Mayat perempuan dalam karung ditemukan warga Kampung Babakan Cianjur, RT 01/03, Desa Malasari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, menyangkut di bebatuan Sungai Cisangkuy, Sabtu (26/4/2014). Diduga mayat tersebut merupakan korban pembunuhan.


Kapolsek Cimaung, Iptu Arpin, mengatakan, mayat perempuan itu ditemukan pertama kali oleh petani sekitar pukul 07.00. Warga mencurigai sebuah karung yang menyangkut di bebatuan sungai. Saat diperiksa ternyata mayat di dalam karung berisi mayat berjenis kelamin perempuan.


"Mayat tersebut diperkirakan sudah dibuang tiga sampai empat hari karena sudah membusuk dan bengkak. Diperkirakan mayat ini dibuang di wilayah Pangalengan," kata Arpin, Sabtu (26/4/2014).


Saat ditemukan, kata Arpin, pihaknya tidak menemukan identitas korban. Namun ciri-ciri korban memakai baju berwarna merah, jaket hitam, dan celana hitam. Korban juga memakai cincin dengan batu permata di jari manis sebelah kiri.


"Korban berada di dalam karung warna merah. Dari hasil olah TKP terdapat jeratan di bagian leher. Tangan korban juga masih terikat saat ditemukan," ujarnya.


Polisi sempat kesulitan saat akan melakukan evakuasi korban. Pasalnya mayat berada di tengah sungai dan menyangkut di bebatuan. Arus air yang deras semakin menyulitkan proses evakuasi. Petugas dibantu warga akhirnya menggunakan tambang untuk menarik korban ke pinggir sungai.


"Proses evakuasi dilakukan sekitar satu jam setelah dibantu oleh warga. Kami sempat kesulitan mengevakuasi karena air yang deras setelah hujan semalam," katanya.


Arpin mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya untuk melapor ke Polsek Cimaung atau polsek terdekat. Mayat perempuan tanpa identitas tersebut dibawa ke Rumah Sakit Sartika Asih untuk dilakukan autopsi.


"Jika ada yang merasa kehilangan keluarganya, saya imbau untuk segera lapor agar identitas korban bisa diketahui," ujarnya.


Dari informasi yang diperoleh di Rumah Sakit Sartika Asih, mayat perempuan tersebut diduga merupakan korban penculikan dan pembunuhan. Kapolsek Dayeuhkolot, Kompol Edi Suwandi, mengatakan, korban merupakan adalah Rumah Sakit Immanuel Bandung. Korban diperkirakan diculik beberapa hari lalu.


"Korban kemungkinan dibunuh saat diculik. Lalu dimasukkan ke dalam karung dan dibuang ke Sungai Cisangkuy untuk menghilangkan jejak. Identitasnya belum diketahui," kata Edi melalui pesan Blackberry Messenger.


Ratusan warga berkerumun saat kepolisian melakukan evakuasi. Sejumlah warga mengaku tidak mengetahui identitas mayat tersebut. Warga Kampung Babakan Cianjur pun kaget dengan penemuan mayat di Sungai Cisangkuy.


Ayi (50), salah seorang warga, mengatakan, mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh Dedi dan Rifki, yang akan berangkat ke kebun. Saat melintas sungai keduanya mencium bau tak sedap dari dalam karung di tengah sungai. Setelah diperiksa ternyata terdapat mayat di dalam karung.


"Mereka lalu lapor ke ketua RT. Kemudian laporan lagi ke Polsek. Wajah mayatnya sudah bengkak-bengkak. Jadi tidak tahu. Tapi warga di sini belum ada yang lapor kehilangan keluarga," kata Ayi.


Belakangan diketahui, identitas mayat wanita dalam karung itu adalah Tita Pramanik (27), warga Santosa, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Tita diketahui bekerja di bagian pengatur makanan klinik gizi RS Immanuel yang tinggal di rumah kos di belakang rumah sakit itu.


Ditemui di RS Sartika Asih, Aab Koswara, kakak kandung korban, membenarkan bahwa jasad dalam karung itu adalah adiknya yang menghilang sejak Senin (21/4) sore. Kepastian bahwa jasad itu adalah Tita berdasarkan pada sejumlah ciri yang terdapat dalam tubuh korban, seperti tanda lahir tompel di panggul kanan.


Ciri yang paling mudah dikenali, kata Aab, adalah cincin permata yang dikenakan pada jari manis tangan kirinya. "Saya tahu persis adik saya. Di panggul kanannya ada tanda hitam. Memang sekarang agak besar karena tubuh adik saya ini membengkak," ucapnya.


Aab mengaku terakhir bertemu Tita pada Minggu (20/4) malam. Sebelumnya, Tita menelepon dirinya meminta untuk bertemu. Namun saat Aab ke tempat kos Tita dan bertemu, adiknya itu tidak membicarakan apa pun.


"Temannya juga enggak tahu di mana Tita. Suaminya juga kerja di Immanuel. Kami lalu melapor ke Polsekta Bojongloa Kaler Senin malam. Beberapa hari kemudian saya dapat kabar Tita di Bogor untuk ngurus bisnis. Tapi setelah dikejar ke sana tetap tidak ada. Saya malah dapat kabar dia sudah meninggal," ujar Aab.


Rita, salah seorang rekan kerja korban mengatakan Tita tengah terlibat dalam bisnis properti. Beberapa hari sebelum hilang, Tita memang tengah sibuk berbisnis. Menurut Rita korban kerap menyetorkan uang hingga Rp 200 juta ke bosnya.


"Tita itu katanya mau diangkat jadi bagian pemasaran. Dia juga suka ketemu dengan orang yang disebut bos di sini (Immanuel). Tapi setiap bertemu selalu di tempat sepi dan tidak ada CCTV," ujar Rita.(wij)







0 comments:

Post a Comment