Monday, May 5, 2014

Pengangguran di Jabar Berkurang 0,14 Persen



Pengangguran di Jabar Berkurang 0,14 Persen


Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan







TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Jumlah angkatan kerja Jawa Barat pada Februari 2014 meningkat dibanding Februari 2014. Meski jumlah tenaga kerja yang mendapat pekerjaan meningkat, jumlah pengangguran juga turut meningkat. Tiga sektor bidang pekerjaan masih mendominasi, yakni sektor perdagangan, industri dan pertanian.


"Terjadi kenaikan angkatan kerja di periode yang sama. Pertambahannya ada 453.284 orang. Terjadi penambahan penduduk yang bekerja, tapi yang menganggur juga meningkat. Itu angka absolutnya. Tapi kalau melihat tingkat pengangguran terbuka, ada penurunan 0,14 persen," kata Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Dyah Anugrah Kuswardani, dalam konferensi pers di Kantor BPS Jawa Barat, Jalan PHH Mustofa, Senin (5/5/2014).


Di Februari 2013, jumlah angkatan kerja ada sebanyak 20.834.090 orang. Ada penambahan 453.284 orang di Februari 2014 menjadi 21.287.374 orang. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga meningkat dari 63,96% di Februari 2013 menjadi 64,36 persen di Februari 2014.


Data BPS Jabar menunjukkan, jumlah penduduk yang bekerja, mengalami kenaikan 443.336 orang di Februari 2014 year on year (yoy) menjadi 19.443.783 orang. Jumlah pengangguran juga mengalami kenaikan 9.948 orang menjadi 1.843.591 orang di Februari 2014 yoy.


"Seperti sebelumnya, sektor perdagangan, industri dan pertanian masih mendominasi. Banyak pekerja yang terserap di sana. Pekerja informal pun lebih banyak, yaitu 52,84 persen, dibanding pekerja formal 47,16 persen," kata Dyah.


Ia mengatakan pekerja informal lebih banyak karena pekerja lulusan SD masih menjadi mayoritas di Jawa Barat. Mau tak mau, mereka terserap di sektor informal.


Dilihat dari komposisi status pekerjaan, status buruh/karyawan merupakan yang tertinggi. Sebanyak 8,53 juta orang (43,86 persen) menjadi buruh atau karyawan. Berturut-turut diikuti pekerja berusaha sendiri 3,39 juta orang (17,43 persen) dan berusaha dibantu buruh tidak tetap ada 2,29 juta orang (11,77 persen).


Dyah juga menyampaikan adanya perubahan penghitungan jumlah penduduk. Sebelumnya, BPS menghitung data ketenagakerjaan dari hitungan estimasi laju pertumbuhan penduduk. Kini, data yang digunakan yakni data proyeksi penduduk untuk 2011 hingga 2035. Data proyeksi ini diperoleh dari Sakernas.


"Kelemahan menggunakan estimasi itu, kami tidak bisa membuat kategori kelompok umur. Kalau menggunakan data proyeksi, kelompok umur bisa dihitung. Tingkat akurasi juga lebih baik, karena menggunakan asumsi mortalitas, fertilitas dan sebagainya," ujar Dyah. (feb)







0 comments:

Post a Comment