Thursday, July 3, 2014

Perang Karya Kreatif di Balik Kampanye Prabowo dan Jokowi






Pilpres 9 Juli 2014 menjadi ajang "perang" karya kreatif para pendukung kedua pasangan capres dan cawapres. Karya-karya kreatif seperti video musik dan lagu, serta munculnya tim relawan kreatif, secara menonjol turut mewarnai pesta demokrasi Indonesia kali ini.





Atas: tim relawan 'Kawan Jokowi' berpose bersama Capres Jokowi di posko mereka. (Foto: Kawan Jokowi) Bawah: para artis dan musisi pendukung pasangan Prabowo-Hatta yang terlibat dalam pembuatan video musik 'Garuda di dadaku". (Foto: Candy Satrio dan iCan Studio)


Sejak masa kampanye berlangsung, masyarakat Indonesia disuguhi beraneka ragam materi. Lewat televisi dan media elektronik lainnya, lalu media sosial serta situs Youtube, tim sukses para kandidat melancarkan berbagai bentuk ‘serangan udara’.

Sebut saja para seniman, komposer lagu, videografer, hingga masyarakat biasa, mereka tergerak untuk mengekspresikan dukungan bagi kandidatnya masing-masing.




Tya Subiakto (baju putih berkacamata) tengah mengarahkan musisi Rama Aiphama dalam pembuatan video musik 'Garuda di dadaku'. (Foto: Candy Satrio dan iCan Studio)


Tya Soebiakto, seorang konduktor orkestra dan komposer Indonesia kenamaan, mantap memilih pasangan Prabowo-Hatta karena beberapa alasan.

“Sosok beliau yang tegas, sosok beliau yang cerdas, dan beliau itu adalah problem solver, di mana bila ada masalah di situ dia ada solusinya," ujarnya.

Karena kekaguman itu, Tya-pun lantas terinspirasi untuk menggubah lagu ‘Garuda di dadaku’ menjadi sebuah lagu dukungan bagi pasangan nomor urut 1.




Musisi, Ahmad Dhani, dan artis senior, Jamal Mirdad, turut berpartisipasi dalam pembuatan video musik 'Garuda di dadaku' yang dicetuskan oleh Tya Subiakto. (Foto: Candy Satrio dan iCan Studio)


Kepada Nurina Savitri dari ABC International, Tya mengungkapkan, karya kreatif seperti gubahannya adalah alat yang ampuh untuk menjaring massa pemilih.

Ia membagi satu bulan kampanye ke dalam tiga tahap sasaran pemilih. 10 hari pertama disebutnya sebagai tahap rational campaign yang memiliki target pria dewasa dan berkeluarga.

“Lalu, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga itu memang kita memasuki emotional campaign," jelas Tya.

Targetnya adalah ibu-ibu dan juga swing voters untuk 10 hari kedua, dan untuk 10 hari ketiga itu first voters dan undecided voters. "Memang mereka harus digarap secara emosional. Itu sebabnya kita itu mengambil musik sebagai basic untuk yang 20 hari ini, terutama 10 hari ketiga ya," jelasnya antusias.

Selain Tya yang mendukung kubu Prabowo, ada pula musisi senior, Dwiki Dharmawan, yang turut membantu dalam pembuatan video musik ‘Garuda di dadaku’. Ia menuturkan, pemilihan lagu 'Apuse' yang digubah liriknya menjadi 'Garuda di Dadaku' bukannya tanpa sebab.

“Ada yang menciptakan lagu baru, dangdut, keroncong, pop, lagu yang heroik, tapi kalau memang lagu 'Apuse' merupakan suatu public domain," katanya.

"Artinya sudah milik masyarakat Indonesia yang berasal dari Papua, sudah dikenal, sehingga melodinya akhirnya sudah menempel, sudah familiar, sehingga lebih cepat untuk memahaminya," ungkap suami dari penyanyi Ita Purnamasari ini."




Diaz Hendropriyono (tengah, memakai jam tangan) tengah berdiskusi dengan Capres Jokowi di posko 'Kawan Jokowi', Jakarta Selatan. (Foto: Kawan Jokowi)


Tim Jokowi pun tak ketinggalan. Lewat organisasi relawan ‘Kawan Jokowi’, Diaz Hendropriyono dan rekan-rekan menghimpun kekuatan dengan merilis karya-karya kreatif.

“Pada intinya 'kan kita ingin menggarap anak muda dan anak muda itu sangat diasosiasikan dengan kreatifitas," ujarnya. "Jadi untuk menggarap anak muda itu tentunya kita harus menggunakan cara-cara jitu, sasarannya untuk menarik perhatian 56 juta pemilih muda."

Menurut Diaz, pendekatan lainnya dilakukan melalui media sosial untuk meraih dampak afektif yang menyentuh emosi (perasaaan). "Karena sosial media itu, yang identik dengan anak muda, biasanya pesan-pesan itu bukan kognitif tapi afektif dan kita pun melakukan pendekatan seperti itu," tuturnya pada ABC.

Diaz mengatakan, sosok kandidat yang didukungnya sangat inspiratif dan karena itulah, materi dukungan yang diberikan haruslah efektif. Ia mengakui menghadapi tantangan tersendiri, yang mungkin tidak ditemui di negara lain.

“Di sini tantangannya yaitu untuk menjelaskan ke orang yang kritis. Kalau di Amerika, mungkin, golputnya karena mereka tidak mengerti mengenai politik atau hak-hak politik. Kalau kita perkenalakan dan kasih masukan, mereka bisa langsung terima. Tapi kalau di sini, semakin mereka pintar, semakin kritis, kemungkinan untuk golput itu semakin tinggi. Jadi itu tantangan tersendiri," urai Diaz, ayah dari tiga anak.




Pembuatan video musik 'Kawan bukan lawan' yang digarap organisasi relawan 'Kawan Jokowi' dan melibatkan beberapa komedian Indonesia. (Foto: Kawan Jokowi)


Videografer Teryza Ranggono yang juga mendukung Jokowi, mengaku bangga bisa turut ambil bagian dari masa kampanye ini. Semua ia lakukan dengan sukarela.

“Pada dasarnya, kita sebenarnya berangkat dari semangat yang sama, cita-cita yang sama, 'pengen' bikin, 'pengen' bantu, 'pengen' bikin sesuatu yang bisa punya dampak positif buat orang," katanya.

Ia menambahkan, "Paling tidak, kita tak ada beban medukung Jokowi. Kecuali kita memang ada beban, wah kalau saya dukung Jokowi 'ntar kenapa-kenapa lagi keluarga saya, karir saya, pergaulan saya? Hal itu tidak ada. Ya sudah, akhirnya kita sukarela awalnya untuk bersama membantu semua bentuk audio visual yang bisa dimanfaatkan untuk berkampanye," tutur Teryza.

Munculnya perang karya kreatif antarkubu kandidat dalam kampanye pilpres kali ini, adalah fenomena menarik yang tak dijumpai dalam pesta demokrasi sebelumnya.

Tampaknya, ini perkembangan yang positif karena sekaligus menunjukkan, bahwa kaum muda Indonesia yang selama ini dianggap apolitis, kini tak ragu lagi menunjukkan sikap politik mereka.


Secara gamblang - dan kreatif.







0 comments:

Post a Comment