Laporan Wartawan Tribun Timur Uming
TRIBUNNEWS.COM,SUNGGUMINASA- Bunga Bangkai (Amorphophallus Paeoniifolius) atau dalam bahasa Makassar Tire Payung dan dalam bahasa jawa Suweg, untuk kedua kalinya kembali mekar di Area Konservasi Rumah Hijau Denassa (RHD) yang berada di Jl. Borongtala, Kelurahan Tamallayang, Kecamatan Bontonompo, Gowa, Sulsel.
Pendiri RHD, Darmawan Denassa, kepada tribun mengatakan, mekarnya bunga bangkai bisa diartikan sebagai datangnya musim hujan. “secara kultural mekarnya bunga bangkai menjadi satu penanda datangnya musim hujan,” paparnya, Kamis (27/11).
RHD mengkonservasi suweg sejak 2011. Ditahun 2013 salah satu koleksi mekar dengan tinggi mencapai 90 cm dan lebar 120 cm.
“Tahun ini lebih banyak suweg yang ditanam sejak setahun lalu hingga sebulan lalu, sekitar 20-an batang. Tanaman ini akan bergantian mekar hingga awal Desember nanti,” lanjutnya.
Sedikit orang awam yang tahu, dibalik aromanya yang menyengat karena bau busuk, batang suweg bisa dijadikan sebagai bahan pangan sebagai sayur.
Rasanya seperti batang daun talas. Umbinya pun sudah diperjualbelikan sejak beberapa tahun terakhir untuk diolah mejadi tepung.
Tepung suweg atau porang dapat digunakan sebagai bahan lem, agar-agar, mie, tahu, kosmetik, dan roti.
Tepungnya juga bisa menjadi sumber karbohidrat dan menjadi bahan baku membuat kue tradisional.
Suweg sebagai serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker, usus besar, diverticular, kardiovaskuler, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis.
“sayangnya belum ada usaha membudidayakan tanaman yang berbunga diawal musim hujan ini. Warga yang mengusahakan sebagai usaha sampingan masih mengambil dialam, sehingga semakin sulit menemukan tanaman ini baik didataran rendah maupun tinggi,” katanya.
Suweg atau Tire Payung semakin jarang ditemukan khususnya di Mamminasata, karena alih fungsi lahan dan pertambangan. Tanaman ini umumnya tumbuh diarea yang belum digali. (Won)
0 comments:
Post a Comment